Selasa, 04 Maret 2008

Ratapan Pilu Para Pelacur


Tuhan jangan harapkan saya sempurna

Kesucian saya tak mungkin bisa pulih

Laki saya kerja di pabrik rokok

Yang di bawa pulang saban bulan Cuma 10.000

Selebihnya dihabiskan dimainan judi buntut

Sedangkan anak-anak masih kecil, tiga

Mereka perlu makan, obat kalau sakit

Belum lagi pakaian untuk lebaran

Hiburan ke kebun binatang

Mana bisa cukup uang segitu

Pernah saya coba jualan kain di pasar

Dan mejaga toko juragan beras

Tapi hasilnya Cuma pas-pasan

Badan saya jadi kurus tak beraturan

Lalu saya beginilah jadinya

Sekali-kal saya diajak hidung belang

Ke jakarta bermalam di hotel mewah

Lumayan pendapatannya

Berapa sudah lelaki yang sudah tidur sama saya

Bisa saya renteng sepanjang jalan dari Solo ke Yogya

Saya tidak sedih, saya tidak berkeluh kesah

Justru ini nasib yang saya pilih

Saya tidak peduli pada neraka

Yang saya cari Cuma surga

Bilanglah mana yang disebut dosa

Kalau memang butuh menyambung nyawa

Ah, Tuhan, jangan harapkan saya sempurna....

Hargai Apa Yang Kita Miliki..!!!



Sobat,

Pernahkah Sobat mendengar kisah Helen Kehler?
Dia adalah seorang perempuan yang dilahirkan dalam kondisi buta dan tuli. Karena cacat yang dialaminya,dia tidak bisa membaca, melihat, dan mendengar. Nah, dalam kondisi seperti itulah Helen Kehler dilahirkan.

Tidak ada seorangpun yang menginginkan lahir dalam kondisi seperti itu. Seandainya Helen Kehler diberi pilihan, pasti dia akan memilih untuk lahir dalam keadaan normal. Namun siapa sangka, dengan segala kekurangannya, dia memiliki semangat hidup yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang legendaris.

Dengan segala keterbatasannya, ia mampu memberikan motivasi dan semangat hidup kepada mereka yang memiliki keterbatasan pula, seperti cacat, buta dan tuli. Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti dirinya mampu menjalani kehidupan sebagaimana manusia normal lainnya, meski itu teramat sulit dilakukan.

Ada sebuah kalimat fantastis yang pernah diucapkan Helen Kehler: "It would be a blessing if each person could be blind and deaf for a few days during his grown-up live. It would make them see and appreciate their ability to experience the joy of sound".

Intinya, menurut dia merupakan sebuah anugrah bila setiap orang yang sudah menginjak dewasa itu mengalami buta dan tuli beberapa hari saja. Dengan demikian, setiap orang akan lebih menghargai hidupnya, paling tidak saat mendengar suara!

Sekarang, coba Sobat bayangkan sejenak....

......Sobat menjadi seorang yang buta dan tuli selama dua atau tiga hari saja!

Tutup mata dan telinga selama rentang waktu tersebut. Jangan biarkan diri Sobat melihat atau mendengar apapun. Selama beberapa hari itu Sobat tidak bisa melihat indahnya dunia, Sobat tidak bisa melihat terangnya matahari, birunya langit, dan bahkan Sobat tidak bisa menikmati musik/radio dan acara tv kesayangan!

Bagaimana Sobat? Apakah beberapa hari cukup berat? Bagaimana kalau dikurangi dua atau tiga jam saja?

Saya yakin hal ini akan mengingatkan siapa saja, bahwa betapa sering kita terlupa untuk bersyukur atas apa yang kita miliki. Kesempurnaan yang ada dalam diri kita.

Seringkali yang terjadi dalam hidup kita adalah keluhan demi keluhan. Hingga tidak pernah menghargai apa yang sudah kita miliki. Padahal bisa jadi, apa yang kita miliki merupakan kemewahan yang tidak pernah bisa dinikmati oleh orang lain. Ya! Kemewahan untuk orang lain!

Coba Sobat renungkan, bagaimana orang yang tidak memiliki kaki? Maka berjalan adalah sebuah kemewahan yang luar biasa baginya. Helen Kehler pernah mengatakan, seandainya ia diijinkan bisa melihat satu hari saja, maka ia yakin akan mampu melakukan banyak hal, termasuk membuat sebuah tulisan yang menarik.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, jika kita mampu menghargai apa yang kita miliki, hal-hal yang sudah ada dalam diri kita, tentunya kita akan bisa memandang hidup dengan lebih baik. Kita akan jarang mengeluh dan jarang merasa susah! Malah sebaliknya, kita akan mampu berpikir positif dan menjadi seorang manusia yang lebih baik!!!!

Sabtu, 01 Maret 2008

Pilihan Hidup


Hari ini saya membuat pilihan-pilihan yang penuh kasih untuk saya sendiri dan menerima kebaikan dalam hidup saya.
Membuat pilihan yang tidak sesuai biasanya berasal dari harga diri yang rendah dan percaya bahwa kita tidak layak menerima yang terbaik untuk diri kita sendiri. Mempercayai bahwa kita layak menerima sesuatu yang kurang Dari yang terbaik adalah suatu kebohongan rohani, karena hak asasi, kita adalah menjalani kehidupan yang makmur.
Louise hay menggunakan metapora yang sangat bagus untuk menunjukkan bagaimana kita membatasi kelimpahan yang tersedia bagi kita. Jika kita pergi ke samudra untuk memperoleh air, ember ukuran berapa yang kita bawa? Apakah itu ember kecil, besar_ berapa besar ember itu?? Tidak ada batasan jumlah air yang dapat kita ambil tetapi kita mungkin menentukan sendiri kendala-kendala pada diri kita sendiri karena masa lampau kita yang membuat kita terus menerus berfikir kecil.
Kita dapat mengganti kebiasaan-kebiasaan lama dengan tindakan-tindakan baru yang membangun harga diri. Dan satu cara untuk melakukan hal ini adalah bertindak seolah-olah kita layak menerima yang terbaik untuk diri kita sendiri.
Akhirnya jika kita memelihara hal itu, kebiiasaan-kebiasaan lama akan kehilangan pegangannya pada waktu tindakan-tindakan baru mengambil alih, dan kita akan mempercayainya bahwa kita layak menerima yang terbaik.

Mari Memungut Kerikil...



Dua orang berjalan bersama di sebuah jalan. Kecepatan sama. Tujuan sama. Wujud dan fisik serupa. Kemudian di tengah jalan ada kerikil 2x yang mengganggu. Orang satu diam saja, seraya menghindari tumpukan kerikil dan melanjutkan langkahnya, merasa bukan hambatan berat bagi perjalanannya. Orang kedua, rela menunda langkah, dan memunguti kerikil2x tersebut, dan melanjutkan sedikit telat dibelakang orang pertama. Mereka hampir bersamaan sampai di tujuan. Apakah yang membedakan mereka?Hari berikutnya terulang kembali, namun tumpukan kerikil lebih banyak. Kali ini orang pertama harus melompatinya. Orang kedua, sekali lagi menunda untuk memungut Seluruh kerikil, hingga jalanan bersih, dan dengan tas penuh dia terlambat sampai di tujuan. Akhirnya, keduanya sampai pada tempat tujuannya yang samaEntah dari mana datang kerikil2x tersebut.

Berbulan2x mereka melewati jalan tersebut, tiap kali kerikil yang menghalangi semakin banyak. HIngga suatu saat kerikil sudah sebesar bukit, dan mereka berdua harus mendaki bukit kerikil tersebut untuk melanjutkan perjalanan mereka. Saat di puncak orang pertama langsung turun berlari melanjutkan perjalanan, orang kedua menyempatkan diri memenuhi ranselnya untuk mengambil beberapa kerikil, sakpol kemampuannya. Seperti biasa, mereka berdua sampai di tempat tujuannya.

Tahun-tahun pun berlalu. Mereka mengarungi perjalanan yang sama, berjuang bersama, dalam rutinitas yang sama tiap hari, melewati jalan itu.Pada tahun yang sama pula, masing-masing dari mereka berdua sudah berkeluarga, dengan anak yang sama, jumlah yang sama,jumlah istri yang sama, pokoknya mirip semua. Kali ini 2 keluarga tersebut, entah apa sebabnya, harus melewati jalan perjuangan mereka. Mereka semua berjalan bersama, dua keluarga, kecepatan sama. Hingga kedua rombongan terhenti.Kerikil yang menghalangi jalan sudah sebesar gunung. Orang pertama berhasil melewati gunung kerikil tersebut, namun keluarganya tidak ikut bersamanya. Setahun kemudian, menyusul Keluarga kedua, sampai di tujuan. Disana orang pertama masih duduk, menunggu kedatangan keluarganya.

Ketika sampai ditujuan akhir Kepala keluarga Pemungut Kerikil bertanya kepada Kepala Keluarga Pertama "Mana anak dan istrimu?'. Orang pertama (yang tidak pernah memungut kerikil) menjawab, "Hanya saya yang sampai, mewakili keluarga, anak istri saya belum mampu melewati gunung tersebut. Nah, kamu sekeluarga kok bisa sampai selamat semua disini?" dia balik bertanya.Orang Kedua menjawab "Saat dirumah saya ajari anak istri saya untuk memungut kerikil yang mengganggu di tengah jalan. Saat keluargamu bersusah payah mendaki gunung, separuh gunung kerikil tersebut kami punguti dan pindahkan perlahan, sekarung demi sekarung hingga kami bisa lewati bersama. Sayang, istri dan anak-anak mu terlalu lelah untuk mendaki ke puncak, dan mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan, tidak seperti kamu pintar sendiri, dan kuat sendiri, berjuang sendiri; namun kau lupakan keluarga dan generasi setelahmu.

"Orang kedua menambahkan "Kau wariskan segunung hambatan bagi anak-anak mu"!!!

Sabtu, 23 Februari 2008

Kepak Sayap Bebas


Terus berjalan dan berlari
Mengoleksi segala yang kutemui
Menggugat kenangan menggores sejarah
Berteriak pada penjuru angkasa
Aku punya nama!!!!
Seperti burung aku terbang
Kepakkan sayap
“ aku datang dan melihatmu “
Tapi kau tidak peduli
Menutup mata dan pergi
Aku hinggap didahan kota
Mendengar lenguh dan tangisan
Rasa lapar dan sedih dimana-mana
Aku tak bisa apa-apa
Kukabarkan padamu cerita ini
Tetapi kau tetap pergi
Pun setelah kau tebas sayap-sayapku
Dari atas gunung tinggi aku terguling
Terus jatuh terus bergulir

Pada TUHAN...


Aku selalu tengadah ke wajah Tuhan
Merapatkan jari jemari tangan ke dada NYA
Menyatukan bibir dan kecupan
Aku menyatu dalam hening paro malam
Aku selalu berbisik ditelinga Tuhan
Hatiku berbicara menguapkan rasa
Menumpahkan kasih mesra dibalik kelambu takwa

Kutitipkan pada awan
Cerita tentang seluruh orang malang dibumi
Agar dinaungiNYA dari terik keculasan
Yang tersisih, terkalahkan oleh apa dan siapa
Kukatakan pada langit
Pengembaraanku yang sia-sia
Mencari nafas dan denyut nadi
Bahkan jasadku entah dimana!
Tak ada yang peduli!

Kembang Bibir...


kuurai jejak tebing-tebing curam, jalanan bagi gema yang pantul
di dinding semesta tua, suara-suara kumandang dari sudut bukit
merasuk lubang-lubang kepala yang rindu mata air, mereka kejar muara berjarak
ketika gema mengibas tabir, kulit-kulit hanya selongsong tanpa makna
isyarah menusuk daging hampa

uraiku dilerai kemarin petang, mereka dekam semalaman di perbukitan
runtuhan jiwa menganak air mata, tapi gumamku hanya sesaat
mereka kembali pada longsong kosong, rumah yang haus telaga semesta